RSS Feed

Ya Rabb :'(

Ya Rabb…
Betapa aku rindu akan kasih sayangMu, haus akan ridhoMu
Ampuni semua dosaku, Ya Rabb…
Aku tak mampu berjalan sendiri

Ya Allah…
Di diri yang penuh keterbatasan ini, tersisa satu harap, Kau mendampingiku selalu…
Menuntunku selalu…

Ya Allah…
Usahaku tidak akan pernah cukup untuk membalas rahmadMu…
Selalu ada cela dan kelemahan dalam diriku…
Sekiranya, Kau mau mengampuni dosa-dosaku, maka aku termasuk orang-orang yang beruntung…

Jangan tinggalkan aku Ya Rabb…
Jangan murka padaKu
Jangan tinggalkan aku sendiri…

Advertisements

Yang Maha Baik :)

Hmmm… Cerita ini nggak bakal terlupa. Rasanya kayak ditabrakin tembok, biar melek

Suatu hari, aku berangkat jaga. Hari itu aku jaga klinik selama 14 jam, padahal seharusnya cuma 7 jam. Tetapi aku punya utang jaga ke temenku. Alhasil, jadi deh, bayar utang, hehehehe… 14 jam, dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam… Bekalku hari itu cuma bawa air putih 1 botol, dan segelas energen. Sedangkan uang di dompet tinggal 25 ribu yang rencananya buat jaga – jaga kalau bensin habis (terakhir kali kuliat, bensin tinggal 2 garis. Jalan agak jauh sedikit, pasti indikatornya langsung nyala). Mau gimana lagi?. 14 jam cuma berbekal sebotol air putih, dan segelas energen. Mau beli camilan pun dilema, tokonya jauh. Bepergian jauh berarti, mengurangi bensin, yang artinya, bensin harus diisi, yang artinya (lagi) nggak ada uang buat beli camilan.

Semua serba dilema hari itu. Sedangkan beranjak siang, makin terasa saja lapar ini. Baru siang, belum beranjak sore (aduh, masih lama nih jaganya, sabar yah)…
Waktu nulis resep di meja depan, tiba-tiba perawatnya ngasih semangkok soto. Aku bengong…
“Mbak, buat siapa ini?”
“Buat dokter”, jawabnya
“Loh mbak?, nggak usah mbak. Nggak ush repot-repot”
“Nggak apa-apa dok, ayo makan siang bareng-bareng”

Asli, nggak enak banget rasanya. Sungkan banget. Mana ada dokter ditraktir perawatnya… Duuuh… Di lain sisi, aku semakin yakin, kalau memang Allah itu Maha Baik. Dengan jalan dari yang tidak kita duga, Dia menolong dan memberi rizkinya… Alhamdulillah… Aku terharu banget… Nggak henti-hentinya mengucap syukur. Alhamdulillah, alhamdulillah…

Oia, satu lagi… Dengan bensin yang tinggal 2 garis, saat perjalanan pulang dari klinik sampai rumah. Ternyata indikator bensinnya nggak nyala, bensin nggak berkurang (tetap 2 garis)… Subhanallah, satu lagi keajaiban yang diberiNya… Hanya Dia yang mampu, hanya Dia Yang Maha Baik… Subhanallah, Alhamdulillah…

I Wish I Could Turn Back Time

Bener-bener masa peralihan yang nggak smooth menurutku. Maksudku, bukannya nggak mau bersyukur, tp aku juga cuma manusia biasa yang kadang-kadang kaget dengan perubahan pola hidup yang tiba-tiba.

7 tahun kuliah di kedokteran, nggak simpel juga. Ngabisin tenaga, emosi, dan materi yang nggak sedikit. Waktu lulus, kukira hidup bakalan berjalan senyaman dan sehalus waktu sekolah. Tapi ternyata, nggak seperti yang kubayangkan.

Selesai coass stase terakhir, aku langsung leyeh-leyeh di rumah. Nggak mau ngelakuin apapun. Bahkan jualan online pun nggak terurus. Rasanya capek banget, nggak pengen ngapa-ngapain dulu. Nggak pernah aku merasa bosan dan capek seperti itu seumur hidupku. Bahkan waktu itu, aku benar-benar kehilangan semangat untuk maju. Jangankan mikirin kerjaan, bisnis online aja aku malas nyentuh. Nyadar sih, tapi nggak mampu buat bangkit. Deep inside aku juga takut kalau ini bakalan berlanjut lama.

Waktu udah kerja pun ternyata masalah nggak sepenuhnya teratasi. Kupikir dulu aku adalah pendengar yang baik. Tapi kalau tiap hari ndengerin orang curhat, bosen juga yah ternyata, hehehe… Berangkat-duduk manis-ndengerin orang ngeluh/curhat-terus mikirin obat apa yang tepat… Capek juga yah.

Tapi kalau dipikir – pikir, kalau nyerah dengan keadaan, nggak bakalan bisa maju. Aku belum ada 1 bulan kerja kayak gini, badan ma semangat udah kebanting-banting gini. Di sisi lain sangat butuh nafkah, karena hidup tak lagi ditanggung orang tua.

Aku jadi salut sama orang-orang yang loyal ma pekerjaannya. Kayak bapakku… Bertahun-tahun bekerja kayak gitu, dengan rumah yang hampir selalu jauh dari kantor. Bahkan weekend sering banget nggak libur, karena harus keluar kota. Padahal aku sekarang, free cuma hari Sabtu. Hari-hari lain cuma 1 shift/hari. Kalau harus nggantikan teman, rasanya nggak ikhlas banget, karena mengurangi waktu sendiriku.

Allah, mohon ridhoMu udi setiap nafas, langkah, dan niatku Ya Allah…

Thanks to Technology :)

Posted on

Merasa sangat-sangat senang dan bersyukur atas perkembangan teknologi. Karena teknologi juga aku sangat senang sekali karena bisa posting di blog dimanapun berada. Aplikasi wordpress di blackberry ini sangat membantu. Sering udah punya rencana nulis, tapi waktu di depan laptop malah nggak tahu mau nulis apa. Kalau ada aplikasi di handphone gini kan enak. Lagi nunggu mobil selesai dicuci, daripada bosen, pasang earphone ndengerin lagu sambil nulis… Hal yang sangat nggak ternilai harganya… Bisa senyum-senyum sendiri pas selesai nulis, semua beban kayak digelontor 🙂

Bersyukur banget ada teknologi kayak gini… 🙂

 

Penampakan blog di hp ^^

Titik Terendah…

Posted on

Berada pada titik terendah emang nggak enak. Badan jadi gampang sakit, pikiran juga ikutan sakit karena nggak mampu berpikir positif… Diantara rehatku, aku masih berusaha mencari semangat dan mengingat2. Pikiran apa yang membuatku bertahan dan tetap optimis waktu ngulang stase penyakit dalam 1,5 tahun yang lalu. Aku yang sekarang benar-benar nggak bisa berpikir positif. Bawaannya nyerah mulu. Nggak ada semangat, sampai badan dengan gampangnya terserang flu berat yang nggak sembuh-sembuh, vertigo berkepanjangan. Sebenernya aku tahu sebabnya. Aku masih ngereject, masih nggak terima harus ngelewati stase bedah sekali lagi. Karena semua orang tahu, badan dan pikiranku tahu hal ini nggak mudah. Makanya ini coba mengingat-ingat, hal apa yang waktu itu bisa buat aku optimis dan semangat menghadapi penyakit dalam sekali lagi.

Di titik terendah ini, mulai deh akal sehat nggak mau jalan. Maunya itung-itungan mulu. Membanding-bandingkan ma yang udah lulus. Lupa kalau masih banyak orang mengahadapi hal yang sama, bahkan masalah yang lebih berat. Kayak aku sekarang lagi membandingkan keadaanku ma si A yang tanpa susah payah bisa lulus. Tapi alhamdulillah, dengan proses yang nggak sebentar, hatiku bisa ngerti kalau kadar ‘susah payah’ relatif untuk setiap orang, dan mungkin dia punya hubungan dengan Tuhannya yang aku nggak punya.

Dengan proses yang nggak sebentar dan nggak gampang, aku akhirnya tahu, indikator beruntung itu nggak cuma bisa langsung lulus yudisium ato nggak (bahkan hal-hal sepele ky gini, nggak mampu kusimpulkan saat berada di titik terendah). Allah mungkin menyimpan keberuntungan lain dibalik kenyataan aku harus mengulang stase bedah sekali lagi, mungkin aku memang disiapkan bakalan jadi dokter spesialis bedah urologi (amiiinnn…), lebih menyiapkan aku siapa tahu nanti didaerah ptt ku lebih banyak pasien bedahnya… Yah, who knows?…

Yang harus kulakukan sekarang memang nggak gampang. Mencoba berdiri di tengah-tengah daerah yang pressure nya nggak main-main memang nggak gampang. Mungkin ini memang keberuntunganku, agar bisa dididik menjadi makhluk Allah yang lebih kuat… InsyaAllah, amiiin… Keberuntungan diberi kemudahan jalan menjadi dokter spesialis bedah urologi juga pasti akan saya terima dengan senang hati Allah, amiiinnn :p 🙂

Duh, nyangkut… -_-“

Posted on

5 Juli 2011

Hari ini yudisium lo. Deg-degannya udah terasa sejak berhari-hari sebelumnya. Sejak semalam sebelum yudisium, sampe nggak bisa tidur, padahal lagi flu. Hebat lo, kali ini badan nggak nyerah ma flu, bener-bener nggak ngantuk. Berdoa, berdoa dan berdoa…

Soalnya bukan apa-apa. Feeling nggak enak, kayaknya bakalan ngulang 4 stase, yaitu bedah, IKM, THT, dan kulit kelamin (kulkel). Bener-bener nggak mantep keempat stase itu. Ujian IKM yang kayak lupa bawa kepala, ujian bedah yang nggak jawab sama sekali (asli ini, beneran nggak ngada-ada. Asli nggak jawab sama sekali. Karena kebetulan aku dapat pasien bedah urologi. Daaaaaannn…., yang nguji dokter spesialis bedah uro juga yang terkenal killer. Tiap mau jawab, pasti dipotong, udah jawab sedikit nggak sesuai ma keinginan beliau. Ya sudah, pasrah. Cuma bisa berharap ma rapat yudisium, berharap ada yang nolongin), ujian THT yang nilai test ku dibawah rata-rata, dan ujian kulkel yang udah diancem nggak lulus ma dokter pengujinya. KLOP!

Nggak bisa bayangin kalau aku sampe nggak lulus empat-empatnya. Take more time and money. Asli, seumur-umur, selama 7 tahun sekolah, baru kali ini ngerasa yudisium dahsyat banget, sampe nggak bisa tidur, nggak lapar, nggak ngerasa sakit…

Akhirnya yudisium juga lo. Hasilnya nyangkut… Aku harus ngulang ujian bedah (yah, masuk akal. Mana ada ujian nggak jawab sekali bisa lulus?). Aku nggak lulus yudisium, tapi pas keluar dari ruang dekan, yang kurasain malah senang, lega banget… Alhamdulillah, aku cuma ngulang ujian 1 stase. Yaah, walau tetep aja namanya ngulang, tapi paling nggak nggak keempatnya kayak prediksiku.

Kebahagiaan dan kesedihan yang dirasain sangat-sangat bergantung dari apa yang diharapin kan ternyata buktinya?. Walau aku kecewa karena nggak langsung lulus yudisium, tapi kelegaan nggak harus ngulang THT atau kulkel lebih mendominasi. Walau bedah ini juga berat dan nggak gampang, tapi paling nggak aku bisa konsentrasi buat bedah aja, semoga hasilnya bisa lebih baik. Amiiiinnnn…… ^^

 

Face The Truth…

Posted on

Nggak terasa looo udh hampir lulus ni sekolahnya… Fiuh hampir 7 tahun mbulet nggak karuan akhirnya bisa selese juga. Walau masih ketar ketir mikirin yudisium, lulus nggak yah ini?…

walau emang keliatannya mustahil, tapi harapan terbesar tahun ini bisa langsung lulus yudisiumnya, biar nggak mberatin ortu (udh umur segini msh blm bs mandiri). Ikut Ujian Kompetensi Dokter Indonesia, lgsg lulus, dpt Surat Tanda Registrasi, dpt Surat Ijin Praktek, go keluar pulau buat PTT, amiiinnn

Menurutku cobaan yang paling berat dari suatu proses itu adalah ketika mendekati hasil akhir. Udh beberapa kali menghadapi keadaan ky gni. Waktu SMP mw ke SMA, gk ada masalah, soalnya waktu itu prinsipnya udh bulat, msh full ” Aku ya aku, kmu ya kmu. Sapa kamu berani ngatur aku? “ hehehehe… Walau sampe sekarang masih ada prinsip ky gt. Tp sedikit banyak, lingkungan mempengaruhi, jadi nggak bisa sekeras dl…

SMA ke kuliah
Sekolah 3 taun selama SMA, pas mw ‘gong’ nya, mw lulus, aku malah didera kebosanan yang amat sangat. Kelelahan yang luar biasa. Aku waktu itu sepenuhnya sadar kalau hanya orang-orang yang luar biasa yang bisa bertahan. Waktu itu, dengan kelelahan, kebosanan, aku menyerah, aku sepenuhnya mengakui bahwa aku bukan orang yang luar biasa. UAN mentok yang alhamdulillahnya lulus. SPMB yang mentok, nggak lulus (yang pada akhirnya ada yang ngasih tw aku, klo jurusan yang aku pilih untuk universitas tersebut nggak mw dijadiin pilihan kedua) *tepuk jidat*, akhirnya aku terdampar di Universitas ini 🙂

Lulus S1 mw ke pendidikan profesi
Kebosanan lebih mendominasi… Ujian akhir semester 2minggu berturut-turut, senin-jumat. Nggak ada istirahat. Dengan memikul SKS yang besar di masing2 mata kuliahnya… Nggak urung buat aku ngos2an… Walau dengan ngesot, otak udh mengecil :p , bisa juga wisuda. Walau dengan hati yang compang camping (putus tepat di hari wisuda). Alhamdulillah, bisa terlewati semua

Pendidikan Profesi mw lulus
Kalau digambarin ky kurva, kurvanya landai menurun ke kanan. Tahun pertama pendidikan profesi, sempat nggak lulus yudisium, ngulang ujian aja, tp nggak tw saking hebatnya birokrasi ma antrian, aku harus nunggu 3bln untuk yudisium setelah ujian ke 2. Aku masih bisa ketawa2 waktu itu. Aku optimis banget semua bakalan baek2 aja. Optimis banget, duniaku ceria seceria2nya. Dengan orang2 disekelilingku yang nggak ada habisnya buat aku ketawa. Tapi begitu lulus yudisium, dan masuk tahun kedua pendidikan profesi, kurvanya turun landai ke kanan. Tahun kedua ini beda banget. Terasa beraaat banget. Kuinget2 juga, aku jadi jarang banget ketawa ngakak, jarang banget punya waktu buat aku sndiri. Ndengerin musik di earphone aja aku nggak sempat. Lebih sering gesekan ma temen, lebih sering nggerutu di depan laptop, pelupa, gampang banget ketiduran, dan yang pasti kebosanan dan kelelahan yang amat sangat. Aku yang dulu hobi banget baca, sekarang jadi males banget disuruh baca. Masih hobi sih baca novel atau komik, tapi nggak ngilangin kelelahan dan kebosanan. Aku jadi punya hobi baru nonton film di bioskop (untungnya ada XXI yang lagi promo, nnton cuma 10ribu 😀 ), ma DVD…

Tau banget klo bakalan ky gini setiap mendekati akhir proses. Tp nggak tw kenapa, nggak bisa menghindari. Mungkin karena aku nggak mampu berpikir positif. Banyak yang bilang (especially the special one) kalau harus selalu mikir positif. Yeah, ini juga lagi belajar. Semoga hasil akhirnya bisa memuaskan… Amiin