Siang itu adalah hari yang panas. Seakan menantang cuaca, aku malah mondar mandir ke segala arah, ke segala penjuru tempat. Tidak sendiri, ada temanku juga bersamaku. Sebut saja namanya Wiwi. Yup, alasan yang membuat kami berkeliaran di luar pada hari yang panas ini tak lain dan tak bukan adalah kewajiban. Apa sih yang bisa ngalahin alasan satu ini ?… Setelah selesai mengurusi urusan di segala tempat ditambah dengan birokrasi yang umm… sedikit nggak masuk akal, emang ada birokrasi yang masuk akal di zaman kayak gini ?. Aku dan Wiwi pergi ke salah satu mal.
Rencana ini sebenarnya Wiwi yang mencetuskan dan aku yang penasaran akhirnya mengangguk menyetujuinya. Jangan bayangkan kami bakalan shopping habis disana. Tetapi kami punya tujuan. Kami pergi ke fortune teller, pembaca tarot gitu lah… Aku penasaran banget ma ide Wiwi ini. Aku pernah coba ramalan tarot beraninya juga cuma di internet. Just for fun ( have fun go mad… ). Aku belum pernah liat live.
Here we go…
Akhirnya setelah menembus kemacetan kota ditambah udara yang nggak nanggung – nanggung panasnya ( kebetulan freon AC mobilku ini minta diisi ) kami sampai juga mal tersebut. Kami langsung menuju ke tempat fortune teller itu. Keyakinan saat berangkat, tekad dalam hati yang ingin mengetahui rahasia diri kami di tempat tersebut mendadak minta dipertanyakan. Yang ada kami berdua malah saling bertanya satu sama lain.
“ Gimana ?. Jadi nggak Nyit ? “ tanya Wiwi
Sialan ni orang batinku. Dia yang ngajak kok malah tanya ke aku ?. Tapi deeply aku juga pengen ikutan sih, hehehe. Maklum habis ketimpa kejadian yang bikin rasa jadi gado – gado. Kali aja aku dapat pencerahan di dalam
“ Umm…” gumamku
“ Ngeri ah Wi… Suasananya item gitu “ kali ini gerai berwarna hitam yang kulihat yang kujadikan alasannya
“ Trus ?… Jadi nggak ? “ tanya Wiwi lagi. Sumpah !. Kalau dia jujur, dia pasti bilang kalau suasana item itu cuma alasanku saja
“ Jalan dulu aja, muter – muter lantai ini dulu, liat – liat aksesori dulu yuuuuk, sambil dipikir lagi ” Kupikir ini jawaban yang netral. Wiwi pun mengangguk. Akhirnya kami muter – muter dulu disitu, liat – liat aksesoris. Lantai dasar yang kukira luas, seluas lapangan bola ternyata sempit juga. Nggak ada setengah jam kami udah ada di depan tempat fortune teller itu lagi. Pertanyaan yang sama dilontarkan oleh Wiwi. Kalau ini ujian, aku pasti udah diusir keluar penguji dengan sukses karena nggak bisa jawab pertanyaan yang sama
“ How much ? “ lagi – lagi pertanyaan basa basi yang kulontarkan ke Wiwi. Wiwi mengangkat bahu
“ kalau tarifnya 2juta aku out aja deh “ kataku
“ Nggak mungkin semahal itu “
“ 25 ribu ?” ujarku keukeuh bargaining
“ nggak semurah itu lah “
“ kalau di bawah 100 ribu aku ikutan “
“ Iyaaaaaa “ jawab Wiwi sambil menarik tanganku. Aku panik
“ Gimana kalau kita muter – muter sekali lagi aja Wi ? “ ujarku memberi penawaran
“ Nggaaaaaak… Kalau kita muter sekali lagi kita dicurigai ntar “
Dalam benakku kebayang peramal disitu lagi membaca tarotnya, lalu dia tersenyum karena tarotnya mengatakan ada 2 orang calon pelanggan yang nggak berani masuk. Kalau emang gitu, keluar kek dari tempatmu, yakinkan kita berdua biar mau mampir…Bayangan tinggal bayangan.
Dengan pasrah aku nurut aja waktu Wiwi menggandengku mendekati tempat fortune teller itu. Sebelum masuk kami sempat membaca potongan kertas yang ditempal di kaca. Tertulis Rp. 50.000,- per person…
Sebenernya bukan tanpa alasan kenapa tiba – tiba ragu dengan alasan yang semula dibuat dengan semangat. Sejujurnya aku takut… Takut orang lain lebih tahu dari aku. Bayangkan !!!. Orang yang asing akan mengorek – ngorekmu menceritakan padamu tentang apa yang sebenarnya terjadi lengkap dengan kemungkinan – kemungkinan yang akan terjadi. Membayangkan saja aku udah merinding disko. Jangankan orang asing. Sobatku saja ( yang notabene udah 5 tahun bareng ) saat dia nanya hal yang pribadi aku pengen sembunyi dari dia. Rasanya seperti ditelanjangi. Apalagi orang asing yang mengatakannya padamu ?. Hingga akhirnya Wiwi mengatakan
“ Ayo Nyit…Sesuatu yang tidak kita ketahui tidak akan melukai kita “
Yup…Tapi menakuti kita gumamku
Di Dalam
Setelah Wiwi membayar biaya registrasi ( yang tenyata sebesar 75ribu. Uuuuhhhh…Kok nggak aware ma pengumuman yang ditulis sendiri sih ? ). Aku memilih jadi penonton dulu aja. Pengen liat dulu gimana prosesnya. Kami berdua duduk di samping meja bundar yang dikelilingi gerai hitam ( aku beneran nggak suka loh… Coba warnanya pink ). Kami menunggu dengan cemas sang pembaca tarot. Wiwi juga samaaaaaa laaaaaaah. Secara dia yang mau dibaca. Aku mah penonton cuma nyiapin kakiku biar biasa ditowel – towel ma Wiwi ( kebiasaannya kalau lagi panik ), hehehehehehehehehehehehe…
Di meja itu ada kartu tarot, ada 3 batu bening ( apa ya itu namanya, aku nggak tahu. Kemarin lupa nanya ma masnya ) ma secangkir kopi. Pertanyaanku muncul, waaaaah, keren ini pasti. Kayak di Harry Potter, ngramalnya pake minuman. Tapi kopi tu diapain yah ?. Masa Wiwi disuruh minum ?. Ada tanda tanya besar bertengger di kepalaku.

Tidak lama kemudian, duduk seorang laki – laki masih muda di depan kami. Rupanya dia sang pembaca tarot. Setelah berbasa – basi sebentar dengan Wiwi seraya mengocok ( lebih tepatnya mengacak – acak ) kartu tarot di depannya. Dia mengamati wajah Wiwi
“ Bagus… nggak ada masalah. Alisnya jaraknya deket artinya nggak suka diem orangnya. Biasanya kalau orang yang jarak alisnya jauh tu lebih suka diem aja di rumah. Jadi ibu rumah tangga misalnya “ katanya sambil terus mengacak – acak kartunya.
Uuuummmm…ntar di rumah aku mau liat jarak alis mamaku aah batinku
“ jarak alismu jauh loh “ katanya sambil menatapku
Sialan ni orang. Woooiiiiii, temenku tu klienmu, bukan aku
“ tahi lalat disitu juga bagus ( sambil menunjuk di pipi sebelah bawah, Wiwi memang punya tahi lalat disitu ). Untungnya nggak punya tahi lalat disekutar sini ( ucapnya sambil menunjuk daerah di bawah mata ) “ Ucapannya langsung terhenti saat melihat wajahku. Woiii aku punya tahi lalat di sekitar situ. TRUS KENAPA ???. Ni orang udah mulai nyebelin ya…Mukaku kusetel nggak terima, dia nya nggak ngomong apa – apa cuma senyum doang. Dengan ini kuputuskan aku ogah diramal !!!, hahahahahaha…
Permainan Dimulai !!!
Pertama – tama Wiwi disuruh mengocok kartu itu, kemudian mas itu menatanya memanjang diatas meja. Wiwi disuruh mengambil beberapa kartu secara acak. Pertama cuma membaca secara umum kehidupan Wiwi aja. Dari pacarnya sekarang, mantan – mantannya. Kemudian pembacaan kedua, mulai ke keluarga, kuliah, kerjaan, lalu balik ke pacar lagi. Di pembacaan terakhir, jari Wiwi semakin keras towel – towel tanganku. Bahkan kakiku udah kalah pamor ma tanganku kali ini.
Pembacaan terakhir sangat menguras emosi
“ Pacarmu yang sekarang ya ?… Ummmmm…Aku bilang jujur ya. Kamu nggak jodoh ma dia. Pacarmu ini cuek ya ? “ Pertanyaan standart… Pembacaan yang standart
“ Yaaah, kamu nggak jodoh ma dia. Nanti bakal ada cinta lagi “ ucapnya seraya menunjukkan kartu ( kalau nggak salah ) tulisannya Love, trus ada angka 2 diatasnya. Yang artinya bakal ada cinta kedua yang datang. Ininih yang aku rada – rada heran plus takjub. Oke lah ya kalau cuma meramal apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi. Tapi yang bikin aku berasa gado – gado adalah, kenapa dia sampe ngerti time tabelnya segala ?. Kayak ucapannya selanjutnya ni
“ Nggak bakal lama kok kamu bertahan ma pacarmu yang sekarang. Cuma dalam hitungan bulan, yah kira – kira 8 bulanan “ JEDEEEEEERRR!!! Ada kilat menyambar – nyambar kepala Wiwi, towelannya makin kencang dan sering di lenganku. See ?, 8 bulan !!!. Dia tahu dari mana ?… Ini nih yang bikin heran plus geli ( sumpah nggak ada maksud buat ngremehin, tapi aku bener – bener takjub, salut )
“ Pacarmu selanjutnya pekerjaannya ada hubungannya dengan Art, kamu sekarang belum ketemu ma dia. Tapi dia orangnya sayang kamu banget, nyayangi kamu, ngelindungi kamu. Nama depannya dari A “ katanya sambil membaca kartu. Ini yang bikin aku memicingkan mata ikutan membaca kartu. Nggak ada huruf A disitu. Haduuuuh, aku bener – bener takjub.
Selanjutnya kami berdua dibikin terbengong –bengong… Akhirnya selese juga acara pembacaan – pembacaan itu. Kami keluar dari gerai itu.
Sesampainya di luar, Wiwi histeris luar biasa mampus. Aku juga ikutan speechless. Yang aku tahu, yang tadi itu hanya media. Alloh membiarkan kami mengunjugi fortune teller itu pasti ada maksudnya. Have fun aja. Yang baek diambil, yang jelek ya jangan diambil hati. Yang aku tahu sesuatu terjadi atas keputusan kita sendiri, usaha kita sendiri, karena pada dasarnya manusia kemampuan untuk berubah dan berusaha. Bukankah nasib seseorang bisa berubah karena usahanya sendiri. Aku mencoba menghibur Wiwi yang hatinya masih porak poranda. Pandangannya sama denganku pada akhirnya. Tapi tahulah gimana rasanya dibilang bakalan putus ma pacar dalam hitungan bulan ke depan.
Mungkin mas itu naksir Wiwi. Dia bilang pacar selanjutnya Wiwi huruf depannya A trus ada hubungannya ma Art. Yaaaah, mungkin aja mas itu namanya Aming, pekerjaannya jelas ada hubungannya dengan Art, seni meramal… Yup itu bayanganku. Dan langsung mendapat jawaban timpukan tas dari Wiwi… Don’t take it so hard lah
Oia, di sela – sela membaca tarot dia sering meminta izin ke kami untuk meminum kopinya yang ada di meja itu juga. Mulutku langsung membentuk huruf O. Terjawab sudah pertanyaanku…kirain itu piranti ngramal juga, ternyata…hehehehe, rada kecewa ini sebenernya.
hwahahahaha,,,,,aku maw juga dramal tapi GRATIS
itu orang minuman dah abis masiihh aja diminum..grogi diaaa…ketemu sama calon pacarnya 8bulan lagiii..
jiahahahahah
*tarot edannn…bikin orang merindingg…(dan menyadari perasaan yg dah beberapa bulan di denial)* BAHHHH
Wakakakakakakakakakakak…
Denial ol denial, hihihihihihi…. Kebuka juga to akhirnya ?… Makanya klo temennya ngomong tuh didengerin, hihihihihihi
Heh, serius ?. Kamu ma mas aming ituuuuu ?, hihihihihihihihi…
Bingung pasti mw denial ato ngamini… Beneran jadi gimana loh tu , wakakakakakakakakak