RSS Feed

SEBUAH ASA

Ara menatap sedih selembar foto yang ada di hadapannya. Dengan susah payah ia menahan rasa perih yang ada di dada. Abe, cowok yang selama ini mengisi hatinya yang nggak akan pernah bisa terganti. Cowok yang sudah meninggalkannya dengan membawa luka di hati yang nggak akan pernah sembuh. Butiran air mata Ara kembali mengalir, dalam hatinya selalu bertanya, “ Kenapa ?. Kenapa Abe nggak pernah bisa memaafkannya. Kenapa Abe nggak ngeliat usaha Ara untuk menebus kesalahannya ?. Kenapa Abe lebih memilih pergi sambil membawa luka ?. Kenapa yang diliat Abe cuma kesalahannya saja ?, kenapa nggak ngeliat ketulusan hati dan perasaannya yang sesungguhnya nggak minta apa – apa dari Abe ? “. Air mata itu mengalir dengan deras. Ara sangat menyayanginya, tapi tak bisa apa – apa menghadapi kenyataan pedih ini.

***

Dua minggu yang lalu. Pukul 01.00 dini hari

Ara yang sedang mengerjakan tugas terhenyak saat mendengar telepon genggamnya berbunyi. Ada sms, batin Ara. Dengan segera ia mengambil telepon genggamnya, sms dari Abe

Ara, please leave me alone. I try to pass this, but you make it harder. Please, leave me alone…Ara termenung saat membacanya.

Belum reda gemuruh yang ada di hati Ara, telepon genggamnya kembali berbunyi, menunjukkan ada sms lagi

images4Leave me alone…You’re princess. Princess has to make relationship with a prince charming. That’s not me. I just ‘ no one ‘… Please, leave me alone. I just get my limit

Kali ini air mata yang terbendung di mata Ara, membuat pandangannya kabur. Ia berharap nggak pernah membaca pesan ini, berharap ini semua hanya mimpi, berharap Abe sedang bercanda. Dengan menahan pedih, Ara menjawab pesan Abe

Maksudmu ?. Kamu minta putus ?. Hanya pesan singkat itu yang mampu diketik Ara.

Iya. Maaf ya, kalau waktu dan caranya nggak tepat. Kita pisah baik – baik, nggak ada dendam, nggak ada benci. Semoga di lain waktu kita bisa ketemu lagi dengan keadaan yang lebih baik

Ara tak mampu lagi menahan air matanya. Tanpa pikir panjang, Ara menelepon Abe, berharap bisa melunakkan hati Abe lewat suaranya. Berharap bisa meyakinkan Abe dengan cintanya. Beberapa kali nada sambung, tapi nggak diangkat oleh Abe.

Ya, tapi caranya nggak kayak gini. Paling nggak, kita ketemuan gitu. Dengan emosi diketik juga kata – kata itu oleh Ara.

Maaf kalau caranya kayak gini. Aku memang pengecut. Aku nggak tega lihat kamu nangis, aku juga nggak bisa menahan sakit hati lagi dengan ketemuan denganmu..Atau biar jelas, dan lebih lega bisa telepon sebentar

Sms balasan dari Abe membuat hati Ara hancur. Caranya berpamitan, membuatnya tak mengenal lagi cowok yang sudah berada di hatinya selama hampir empat tahun. Perasaan pedih mendera hati Ara. Ia benar – benar bingung bagaimana caranya membuat Abe percaya jika ia benar – benar tulus menjalani ini semua dengan Abe. Tak ada sedikitpun niat di hatinya untuk melukai hati cowok yang sangat disayanginya itu.

Dengan air mata yang deras mengalir dan gemuruh di dada yang tak henti – hentinya mengoyak perasaannya. Bayangan Ara kembali di waktu satu tahun terakhir ini. Saat – saat dimana cobaan tak hanti – hentinya melanda mereka berdua. Tepatnya saat Ara tak lagi dapat membohongi perasaannya di hadapan Abe. Ara tak mampu lagi menyimpan semua, tak mampu lagi membohongi Abe, orang yang sangat disayanginya.

Abe adalah cowok yang sangat keras kepala, kadang – kadang egois, tapi hatinya lembut. Apapun keadaan Abe, Ara bisa menerima. Ara sangat sayang pada Abe. Begitu juga Abe terhadap Ara. Walau perjalanan cinta mereka nggak semulus dan selurus jalan tol. Ara sangat menyayangi Abe. Bagi Ara, Abe adalah media yang sudah dikirimkan Yang Maha Kuasa untuk mengingatkan Ara untuk selalu bersyukur di setiap detik hidupnya. Abe adalah anugerah terindah bagi Ara. Hingga suatu waktu, Ara berkata jujur kepada Abe. Bahwa tiga tahun yang lalu, Ara pernah membagi cintanya untuk orang lain. Kenyataan yang membuat hubungan mereka bagai diterpa badai. Ara tak kuasa lagi membohongi Abe yang sangat dicintainya. Tapi Abe juga nggak bisa menerima begitu saja. Ternyata Ara sudah membohonginya selama tiga tahun. Ara masih ingat kata – kata Abe waktu itu

“ Kamu tahu kan kalau aku selalu mengutamakan komitmen ?. Kamu tahu apa artinya ?. Komitmen berarti percaya. Aku sangat mengutamakan kejujuran dan kepercayaan dalam membangun hubungan. Tapi ternyata kamu membohongiku selama tiga tahun ! “ kata Abe berapi – api dengan wajah yang menahan marah. Sedangkan Ara hanya bisa menunduk dalam – dalam. Mengakui kesalahannya.

“ Sekarang apa yang bisa kupegang dari hubungan ini ?. Nggak ada lagi kepercayaan, nggak ada lagi kejujuran. Kamu udah merusak kepercayaan yang udah kuberikan padamu selama tiga tahun ini “ kata Abe lagi

“ Tapi aku janji Be, aku nggak akan membohongimu lagi. Aku sayang banget sama kamu. Aku akhirnya berkata jujur padamu tentang rahasiaku tiga tahun yang lalu karena aku nggak bisa membalas rasa sayangmu dengan kebohonganku “ jawab Ara lirih

“ Lalu siapa yang bisa menjamin kamu nggak akan berbohong lagi kepadaku ?. Kamu nggak akan menyakiti aku lagi ? “ tanya Abe

“ Aku nggak akan berbohong lagi padamu Be, apalagi menyakitimu. Please Be, kita coba lagi. Aku akan buktikan kalau kamu nggak akan sia – sia percaya sama aku “ jawab Ara mantap. Tekadnya sudah bulat. Apapun yang terjadi ia akan mempertahankan Abe dengan sepenuh hatinya

Kemudian mereka mencoba lagi membangun rasa percaya. Hal ini tak mudah. Ara berusaha yang dia bisa untuk meyakinkan hati Abe jika dia sungguh – sungguh tulus kepadanya. Tapi di lain sisi, Abe sudah terlanjur sakit hati pada Ara. Segala pengorbanan, perasaan sayang, saat – saat manis sudah tak ada artinya bagi Abe

Ara tersadar dari lamunannya. Tanpa membuang waktu dia menelepon Abe. Ara berjanji pada dirinya sendiri, ia nggak boleh menangis. Abe nggak boleh tahu jika ia menangis

“ Halo “ terdengar suara Abe diseberang sana. Suara yang amat dirindukan Ara

“ Maaf ya “ kata Abe lagi

“ Iya, nggak apa – apa. Sama – sama. Maafin juga kalau aku banyak salah. Baik – baik ya “ kata Ara dengan menahan tangis

“ Iya “ jawab Abe mantap

“ Sudah ya “ jawab Ara seraya menutup telepon

Berakhir sudah kisah cintanya. Pedih hatinya karena tak bisa lagi di samping cowok yang sangat disayanginya

No chance to change…

***

Walau waktu sudah berjalan dua minggu, kepedihan masih menyelimuti hati Ara. Ia masih berharap dapat kembali bersama dengan Abe. Ingin rasanya ia menghubungi Abe, tapi akhirnya ditahan. Ara sadar betul. Apapun yang dirasakannya, sudah nggak berarti apa – apa lagi buat Abe. Bagi Ara tak ada yang lebih penting kecuali perasaan Abe. Mengetahui Abe baik – baik saja sudah membuat Ara senang. Ia cukup tahu diri untuk nggak merusak kebebasan Abe, kelegaan hati Abe dan kebahagiaan Abe.

This love will be forever… In my heart…


7 Responses »

  1. oooooooooooooops…………

    spechless.. :P

    Reply
  2. Salam kenal dari pengembara d dunia maya. Hehehe.

    What a story, sampe terhanyut saya. Kalo menurut saya, Ara deserve the best lah dibanding aristokrat kolot macam abe. Naif banget sih abe itu? Hari gini masih naif, kan udah ada steh12, d’nasib, dll.

    Layak ditunggu nie cerita2 menyenangkan dari Ara. Keep on writing mbak Nyitatara.

    Reply
    • Hahahahahahaha… Story from the bottom of my heart ^^
      Things happen for a reason… Mungkin Abe emang ada rencana bikin band mungkin ? ;-P

      Reply
  3. Wahahaha, emang susah ngarepin anak band. Anak band yang berlagak pake komitmen pula si Abe itu. Cuih! (Maaf mbak, dibaca lg, emosi lg)

    Anyway… ayo Ara, semangat! (Berlagak karakter2 diatas bener2 ada)

    Reply
  4. Nice story, sepintas dari cerita bisa nilai lah, setidaknya abe bisa menyadari karakternya yang pengecut, rendah diri, dan naif. Tapi knapa agak susah ya pahami karakter ara? kok bisa menyatukan konsep bohong dan cinta. Afterall, sebuah penggambaran karakter yang bagus. Keep writing.

    Reply
    • Uhm… mungkin perlu dibuat cerita dari sudut pandang abe ya ?… Jadi biar karakter Abe juga jelas ^^. Laen waktu… pasti !!!. Makasii udah mampir dan thanks buat masukannya

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.