RSS Feed

KUR

Aku menghembuskan nafas keras – keras lalu merasa bebanku sudah hilang dan semua akan baik – baik saja. Aku berputar – putar memandang sekeliling sangkar ini, sangkar tua. Aku berada di dalam sangkar ini selama lebih dari tujuh tahun. Dengan berganti – ganti suasana tergantung tuanku. Sudah tiga kali aku berpindah – pindah mengikuti tuanku. Bersama Webi, temanku sesama burung perkutut yang tinggal di sangkar sebelahku. Tapi nasibnya buruk sekali. Dia sakit – sakitan. Sedikit – sedikit dia terserang rematik dan masuk angin. Dalam hati aku turut prihatin atas nasibnya, tapi tak jarang aku bersyukur badanku tak selemah dia.

Sekarang aku tinggal di daerah yang panas. Mengikuti tuanku tentunya. Tapi syukurlah tuanku mau mengerti. Aku tidak dijemur di panas terik matahari, sangkarku digantung di bawah atap di kebun belakang. Kebun yang rindang dan sejuk walau tak tertata rapi.

“ Kur, aku lapar “ keluh Webi.

“ Sabar, sebentar lagi juga dapat makan “ jawabku sekenanya.

“ Sabar, sabar, dari dua hari yang lalu jawabmu selalu seperti itu “

“ Mau bagaimana lagi. Kalau aku manusia, aku pasti sudah mencari makan sendiri. Tidak menunggu majikan seperti ini “ kataku dengan sedih. Sudah dua hari tempat makan kami kosong. Sangkar kami juga sudah sangat bau dan kotor. Kami memang selalu mengikuti tuan berpindah – pindah. Tapi waktu terakhir ini tidak. Tuan kami pindah bekerja entah kemana. Kami tetap tinggal disini, jauh dari tuan. Kami dititipkan tuan kepada putrinya. Non Nata namanya. Duh, walau dia selalu ada di rumah, dia sering melupakan kami.

Klek !

images

Suara pintu di buka. Aku berdiri dengan girang. Harapan untuk mendapatkan makanan membayangiku. Aku mulai bersiul – siul mencari perhatian.

“ Tolonglah Non Nata, kami lapar “ ujarku.

Kulihat Non Nata mengambil sapu dan pengki dan tak ada tanda – tanda dia akan memberi kami makan. Aku bersiul semakin keras. Mau tidak mau dia harus memberi kami makan hari ini. Kalau tidak, tamatlah riwayat kami. Saat aku bersiul, Non Nata hanya memandangku.

“ Sebentar ya… Aku bersih – bersih dulu “ kata Non Nata seraya berjalan menuju halaman depan.

Aku terdiam. Hatiku sangat gembira. Non Nata mengerti apa yang kami rasakan. Non Nata bisa mendengar lebih dari manusia – manusia yang lain. Kini kami tinggal menunggu Non Nata selesai bersih – bersih.

Matahari mulai terbenam, sore mulai berganti malam. Tapi Non Nata tidak ada tanda – tanda mendekati sangkar kami. Kulihat Webi sedang menahan sakit kakinya yang terkena rematikny. Hatiku sangat sedih. Walau bagaimanapun Non Nata adalah putri dari tuan kami. Jadi tidak mungkin rasanya jika dia tega tidak mengurus kami. Mungkin Non Nata kelelahan pikirku menghibur diri sendiri.

“ Sabar ya Webi “ bisikku kepada sahabatku yang sedang menahan sakit dan lapar.

***

Keesokan harinya…

Aku melihat Non Nata sudah rapi. Mau berangkat kuliah rupanya. Kali ini Non Nata harus menyempatkan waktu untuk memberi makan kami. Aku bersiul keras – keras. Tak lupa agar Non Nata sadar, aku loncat – loncat di dalam sangkar. Harapan tinggal harapan, Non Nata berangkat kuliah tanpa mampir ke sangkar kami. Hari yang panas, tanpa makanan dan minuman menanti kami.


***

Belum tengah hari Non Nata sudah pulang. Tetapi tak ada rasa gembira dan harapan. Aku sudah putus asa.

“ Kur, Non Nata sudah pulang ya ? “ tanya Webi.

Pertanyaan Webi hanya kujawab dengan anggukan lemah.

“ Kur, kok diam saja ?. Ayo bersiul lagi, loncat – loncat lagi “ pinta Webi.

“ Tidak Web. Percuma juga bersiul sampai tenggorokan kering dan loncat – loncat sampai kaki patah. Non Nata tidak akan ingat kita “ ujarku.

“ Jangan menyerah Kur. Ayo coba lagi. Andai aku bisa bersiul sekeras dirimu. Andai aku bisa loncat – loncat selincah kamu. Pasti aku yang akan bersiul – siul dan loncat – loncat memanggil Non Nata “ kata Webi.

Aku melihat Webi dengan heran. Mengapa sahabatku ini masih percaya dengan Non Nata. Padahal ia sudah beribu – ribu kali mengecewakan kami. Bahkan Non Nata mungkin tidak tahu kalau Webi sedang sakit.

“ Mengapa kamu percaya sekali kalau Non Nata akan sadar Web ? “ tanyaku.

“ Karena kita ikut keluarga tuan sudah lama. Walau Non Nata tidak merawat sebaik tuan merawat kita. Tapi aku yakin Non Nata tidak sekejam yang kamu pikirkan. Non Nata juga manusia Kur. Non Nata juga punya hati “ kata Webi.

“ Sampai kapan kita percaya Web ? “ tanyaku penasaran.

“ Sampai Non Nata sadar “ jawab Webi santai.

Mataku terbelalak. “ Maksudmu ?. Sampai waktu yang tidak ditentukan Web ?. Keburu berpindah dunia dong Web, tamatlah riwayat kita “ kataku penuh dengan emosi.

“ Kur, makhluk hidup ada di dunia ini tugasnya cuma satu. Yaitu usaha. Seperti kita sekarang. Kita harus usaha bersiul – siul untuk mengingatkan Non Nata dan usaha berdoa. Semoga Non Nata sadar “ jawab Webi bijak.

Tak lama setelah itu. Non Nata keluar dapur dan menuju ke sangkar kami. Perlahan – lahan Non Nata menurunkan sangkar Webi lalu sangkarku. Aku hanya diam, tak ada niat untuk bersiul – siul dan locat – loncat seperti biasanya.

“ Wah, kamu ngambek ya ?. Maaf, maaf, aku lupa memberimu makan tiga hari terakhir ini “ kata Non Nata. Aku terkejut seraya melirik Webi.

“ Apa kubilang “ kata Webi. “ Jangan berhenti berusaha “

Non Nata membersihkan sangkar kami, memberi makan dan minum kami. Bahkan ada hal yang tidak terduga. Non Nata memberi Webi obat. Aku tak menyangka Non Nata juga memperhatikan kalau Webi sedang sakit.

Setelah itu Non Nata menggantungkan sangkar kami di tempat semula seraya berkata,

“ Jangan ngambek lagi ya. Kemarin aku memang sibuk sekali jadi lupa memperhatikan kalian. Besok – besok nggak lagi deh. Aku memang nggak bisa merawat kalian sebaik ayahku. Tapi aku tidak akan membiarkan kalian tak terurus lagi “

Perkataan Non Nata kujawab dengan bersiul sekeras – kerasnya dan loncat – lonat setinggi yang aku bisa.

“ Nah, gitu dong. Kamu kan burung, kalau tidak bersiul kan aneh jadinya “ kata Non Nata lagi seraya masuk ke dalam dapur.

“ Web, kamu dengar kan ?. Non Nata minta maaf Web “ kataku.

“ Iya. Non Nata hanya manusia biasa Kur “ jawab Webi singkat.

Tiba – tiba muncul pertanyaan di dalam benakku

“ Web, kalau Non Nata manusia yang mempunyai hati, apakah dia juga bisa mengerti bahasa burung ? “

Webi hanya mengangkat bahu.






6 Responses »

  1. pekerjaanq sama kayak kamu nyiit
    jadi “MISS WEKER”
    segini kah pisces membutuhkan qt??

    Reply
  2. heiii..inget bobbiii…inget bobbiiiikuuuuuuuuuuuuuuuuuu………….

    Non Nyitaaa…bobbiii nonnn….

    Reply
  3. hahahaa.. ni peringatan penting buat para pemelihara binatang untuk memperhatikan binatangnya…

    apiik tenan :D

    Reply
    • That’s true
      Walau pada akhirnya kura – kura ku sekarang yang nggak terurus, tapi burungnya masih dalam keadaan baek – baek saja, hahahaha

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.