Hmmm… Cerita ini nggak bakal terlupa. Rasanya kayak ditabrakin tembok, biar melek…
Suatu hari, aku berangkat jaga. Hari itu aku jaga klinik selama 14 jam, padahal seharusnya cuma 7 jam. Tetapi aku punya utang jaga ke temenku. Alhasil, jadi deh, bayar utang, hehehehe… 14 jam, dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam… Bekalku hari itu cuma bawa air putih 1 botol, dan segelas energen. Sedangkan uang di dompet tinggal 25 ribu yang rencananya buat jaga – jaga kalau bensin habis (terakhir kali kuliat, bensin tinggal 2 garis. Jalan agak jauh sedikit, pasti indikatornya langsung nyala). Mau gimana lagi?. 14 jam cuma berbekal sebotol air putih, dan segelas energen. Mau beli camilan pun dilema, tokonya jauh. Bepergian jauh berarti, mengurangi bensin, yang artinya, bensin harus diisi, yang artinya (lagi) nggak ada uang buat beli camilan.
Semua serba dilema hari itu. Sedangkan beranjak siang, makin terasa saja lapar ini. Baru siang, belum beranjak sore (aduh, masih lama nih jaganya, sabar yah)…
Waktu nulis resep di meja depan, tiba-tiba perawatnya ngasih semangkok soto. Aku bengong…
“Mbak, buat siapa ini?”
“Buat dokter”, jawabnya
“Loh mbak?, nggak usah mbak. Nggak ush repot-repot”
“Nggak apa-apa dok, ayo makan siang bareng-bareng”
Asli, nggak enak banget rasanya. Sungkan banget. Mana ada dokter ditraktir perawatnya… Duuuh… Di lain sisi, aku semakin yakin, kalau memang Allah itu Maha Baik. Dengan jalan dari yang tidak kita duga, Dia menolong dan memberi rizkinya… Alhamdulillah… Aku terharu banget… Nggak henti-hentinya mengucap syukur. Alhamdulillah, alhamdulillah…
Oia, satu lagi… Dengan bensin yang tinggal 2 garis, saat perjalanan pulang dari klinik sampai rumah. Ternyata indikator bensinnya nggak nyala, bensin nggak berkurang (tetap 2 garis)… Subhanallah, satu lagi keajaiban yang diberiNya… Hanya Dia yang mampu, hanya Dia Yang Maha Baik… Subhanallah, Alhamdulillah…